When I Was…

26ca6c98397617024e43f950e1d438ea

Yuhu ini aslinya selingan aja sih sampai suatu waktu aku dapet ide dalam nulis fanfic setelah sekian lama. Ini serius deh makin parah writerblocknya semakin aku jarang nyoba mikirin huhu~

***

Bulir-bulir hujan kembari membasahi jaket biru kesayanganku. Jalanan mulai terlihat memburam dari arah pandangku. Oh, pantas saja air hujan membuat helm yang kupakai mulai mengembun. Kucoba mengusap setiap embun yang menghalangi arah pandangku. Senyuman tipis mulai menghiasi bibirku. Kembali kuingat kejadian beberapa jam lalu yang masih membuatku terkejut dan tak menduganya hingga saat ini. Inginku marah tapi, siapa yang akan peduli? Jika kupikirkan, siapa yang berada di sisiku saat itu? Tak ada. Bahkan kau pun tidak.

Teringat bagaimana kedatanganmu tiba tiba yang entah darimana membuat senyuman indah di bibir mungilku. Lalu tiba-tiba saja senyumanku langsung memudar saat menyadari tujuanmu datang ternyata bukan untukku. Tetapi untuknya. Untuk wanita itu. Awalnya kucoba menepis segala prasangka buruk ini, tetapi, semakin kuperhatikan, semakin kuat dugaanku akan prasangka itu. Seakan kuingin sekali menjerit, ‘apa yang harus kulakukan?!’

Ku putuskan untuk singgah sebentar di sebuah taman sepi tetapi cukup tenang agar aku bisa menetralkan setiap hal yang berkecamuk di otak dan pikiranku. Sebuah bangku taman dengan lampu remang-remang terasa pas dengan keadaanku. Ku duduki bangku itu dan mulai menelungkupkan kepalaku. Tak terasa cairan bening ikut membasahi pipiku selain air hujan yang mulai mengecil. Aku menangis, setelah sekian lama.

Aku tak tahu fakta apa yang membuatku sampai menangis. Fakta bahwa dia sudah tak mengharapkan kehadiranku atau fakta bahwa dia menemukan seseorang yang lebih menarik perhatiannya? Mungkin keduanya. Aku ingin berlagak egois dengan memintanya kembali tertuju kepadaku. Tetapi sayangnya, aku tak bisa sejahat itu. Memaksakan perasaan orang demi kebahagiannku. Lagipula jika kupikir kembali, setelah sekian tahun bersamaku, apa dia bahagia? Apa dia senang dengan kehadiranku? Apa dia merasa membutuhkanku? Kembali kutelan setiap pertanyaan yang tak jua bisa kusampaikan.

Sebuah notifikasi ponsel memperlihatkan bahwa ibuku menanyakan posisiku saat ini. Ku menyeka setiap air mata dan mulai bangkit menuju sepeda motorku. Kutau aku tak bisa terus seperti ini, tapi tolong, biarkan aku menikmati setiap kesedihanku saat mengingatmu, sampai waktunya tiba aku bisa mengganti tangisan itu dengan senyuman dengan tulus.

Let’s try to be happy, for a short time, short memory, and short life.

Iklan

Comment Please ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s