[Series] Memories (Chapter 1)

CoverFFMemories

Author : Afina23

Cast : – Jessica Jung / SNSD Jessica

– Krystal Jung / F(x) Krystal

– Im Yoon Ah / SNSD Yoona

– Tiffany Hwang / SNSD Tiffany

– Xi Luhan / EXO M Luhan

– Byun Baekhyun / EXO K Baekhyun

– Park Chanyeol / EXO K Chanyeol

– DLL

Genre : Angst , Romance , Friendship

Rating : PG+13

Disclaimer : Semua tokoh milik tuhan dan keluarganya. Tapi jalan cerita dan karakter pada masing – masing tokoh murni dari pemikiran saya.

Summary : “egois? Apa aku egois karena ingin bersama keduanya? Apa iya?”

A/N : oke, aku tahu ini tidak sesuai dengan Prolog sebelumnya. So, untuk cerita pas Sooyeon masih kecil itu jangan diinget dulu soalnya itu akan dibahas pas FF ini akan mendekati kata END. Well, enjoy with my fanfic!

Warning : Typo , Alur cerita dipaksakan dan sepertinya tidak nyambung dengan Teaser awalnya(?) ._.

** Memories **

Author POV

Seorang yeoja berbadan ramping itu mengelus – ngelus kepala adik kesayangannya itu. Sedangkan, si adik hanya tersenyum manis menerima perlakuan sang kakak. Mereka terlihat sangat bahagia. Panggil saja mereka Sooyeon dan Soojung. Umur mereka memang terpaut cukup jauh. Mungkin sekitar 5 tahun. Tapi, jika kalian lihat lebih teliti Soojung lebih terlihat seperti seorang sahabat daripada adik, karena dia memiliki tinggi badan yang cukup jauh darinya. Well, mereka bisa disebut ‘sempurna’.

Mereka mempunyai sifat dan wajah yang sangat bertolak belakang. Sooyeon atau yang sekarang lebih sering dipanggil dengan Jessica itu mempunyai wajah yang sangat manis dan cantik, tubuh yang ideal dan otak yang pintar. Tetapi, dia selalu bersikap acuh tak acuh dan tidak peduli kepada setiap orang. Kecuali kepada Soojung , keluarganya dan tentunya Tiffany, sahabat terbaiknya.

Sedangkan Soojung dan sekarang selalu dipanggil dengan sebutan Krystal itu berambut panjang indah , tinggi badan yang ideal untuk umurnya sekarang dan mempunyai mata yang bisa menghipnotis semua namja yang menatapnya. Sifatnya ramah, sedikit manja dan cukup serakah. Maksudnya serakah itu, dia selalu ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.

Baiklah, mari kita kembali kepada Sooyeon dan Soojung yang sedang berpelukan itu. hubungan mereka memang sangat dekat. Sungguh, mereka tidak bisa dipisahkan.

Drrtt…drttt

Ponsel Sooyeon bergetar dan membuat moment bahagia itu berhenti. Sooyeon merogohkan tangannya ke dalam saku celananya. Terpampang ponsel berwarna pink dengan gantungan ponsel bertuliskan ‘JSY’. Ya JSY adalah singkatan nama koreanya.

Keningnya berkerut saat membaca sebuah pesan di dalamnya.

‘semoga kau tidak melupakanku’

Sebuah pesan singkat yang sungguh misterius. Sooyeon melihat nama si pengirim dan hanya terlihat nomor yang tidak ada di phone booknya. Sooyeon mendesah pelan. Soojung melihat tingkah kakaknya yang cukup aneh. Karena penasaran, dia melirik ponsel Sooyeon lalu terkekeh pelan.

Eonni! Kau tak bilang kalau kau mempunyai penggemar rahasia.” Seru Soojung lalu dia kembali terkekeh. Sooyeon mengerucutkan bibirnya. Oh ya, dia mulai kesal sekarang. “ah Eonni! Aku hanya bercanda, kau tahu.” Lanjut Soojung dan membuat Sooyeon sedikit mengembangkan senyumannya.

Mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Soojung berkata, “Eon! Kau tau temanku yang tinggal di China itu? Dia akan pindah ke sekolahmu nanti.” Kata Soojung antusias. Sooyeon yang menyimak hanya terdiam sambil mengingat – ngingat apakah Soojung pernah menceritakan temannya yang berada di China itu.

1 menit….

3 menit….

5 menit….

Soojung mencibir pelan saat mengingat bahwa kakaknya itu adalah seorang yang pelupa. Sooyeon hanya terkekeh pelan sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Soojung menghembuskan nafasnya lalu mengeluarkan sebuah smirk dari mukanya. Sooyeon menatapnya tajam.

Soojung melipat kedua tangannya di dada lalu berkata, “kurasa, lebih baik kau mengetahuinya sendiri. Itu akan lebih menarik!”

>>>>

Sooyeon melemparkan tas birunya itu di atas ranjangnya. Dia pun membanting tubuhnya di atas ranjang empuk itu. Dia mendengus saat memikirkan apa yang telah terjadi di Sekolahnya hari ini. Semua memori tentang peristiwa tadi berputar kembali di otaknya. Seorang namja yang sudah bersamanya beberapa tahun ini selalu membuatnya kesal. Bahkan, lebih sialnya dia selalu mendapat kelas yang sama dengannya.

Byun Baekhyun. Namja yang menjadi incaran semua yeoja satu sekolahnya itu membuat hal – hal yang selalu merugikan Sooyeon. Tetapi, selalu  menguntungkan baginya–Baekhyun. Oke, ini memang tidak adil. Sudah beberapa kali pun Sooyeon meminta Baekhyun menjauhinya, tetapi itu sungguh sia – sia.

Bayangkan, namja itu mencium pipinya di hadapan semua yeoja yang mengincarnya. Dan akhirnya dia menjadi target utama bagi para yeoja – yeojaitu.

Sooyeon merutuki dirinya sendiri saat mengingat peristiwa itu. Di sisi lain, dia sungguh terkejut bahwa Baekhyun akan melakukan itu dan di sisi lain pun, dia sungguh tidak terima akan perlakuannya itu.

Perlahan tapi pasti, mata Sooyeon hampir menutup dengan sempurna. Tetapi, dengan segera matanya kembali membulat saat mendengar suara hantaman yang keras. Sooyeon menatap arah pintu kamarnya dengan tajam. Terlihat seorang yeoja dengan kuciran di rambutnya itu menatapnya frustasi. Sooyeon menaikkan ujung bibirnya sedikit lalu menatap yeoja itu dengan tatapan polosnya itu.

Yeoja itu semakin frustasi melihat respon Sooyeon yang tenang seperti biasa. “ya! Kau Jessica Jung! Lihat apa yang terjadi denganmu.” Bentakyeoja itu sangat keras sambil menatap Sooyeon tak percaya. Bahkan, suaranya bergema disetiap ruangan yang berada di rumah itu. Sooyeon beranjak dari kasurnya lalu berdiri di dekat jendelanya itu. Dia menatap ke arah luar kamarnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

Na(aku)? Apa yang kulakukan?” tanya Sooyeon polos–atau lebih tepatnya berpura – pura. Yeoja itu menepuk jidatnya kesal. Sedangkan, Sooyeon hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu. Panggil saja dia Tiffany. Tiffany menyentuh pundak Sooyeon dengan lembut.

Tiffany berdehem sejenak. “kau tidak amnesia bukan? bagaimana bisa kau melupakan kejadian saat baekhyun menc–“ belum sempat Tiffany menyelesaikan perkataanya, dengan cepat Sooyeon membungkam mulut Tiffany. Tiffany berontak dan membuat Sooyeon akhirnya membuka tangannya dari mulut Tiffany itu.

Sooyeon mencibir pelan. “bisakah kau diam? Bahkan, aku sedang mencoba melupakan kejadian itu. kau tau? dia sungguh menyebalkan! Aku ingin mencekik leher namja sialan itu!” pekik Sooyeon berapi-api. Tiffany melongo melihat perubahan sikap Sooyeon yang sangat drastis saat dia menyebutkan nama ‘Baekhyun’. Semarah itukah dia?

Tiffany akhirnya memilih untuk melihat – lihat buku catatan Sooyeon. Sedangkan Sooyeon hanya melamun ke arah jendela. Tiffany mendesah pelan. “lihat nilai-nilaimu, hampir rata-rata di atas 80. Wajahmu pun cantik. Kau pun mempunyai tubuh yang ideal dan kau–“ Tiffany menghentikan kalimatnya saat Sooyeon menatapnya kesal.

well, apa yang kaulakukan? Menganggumiku, eoh? Atau kau menyukaiku?” Tanya Sooyeon dengan tatapan kesalnya. Tiffany menatap tajam ke arah Sooyeon yang menuduhnya seperti itu. Apa Sooyeon sudah gila?

Tiffany membaringkan tubuhnya di ranjang empuk milik Sooyeon. Akhirnya, Sooyeon pun memilih mengikutinya dan berbaring di sampingnya. Tiffany menatapnya dalam. “kau.. tidak berniat mempunyai namjachingu, hm?” tanya Tiffany ragu. Reflek Sooyeon menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Tetapi, dengan segera ia kembali menormalkan ekspresi mukanya saat ini. Sooyeon menggeleng pelan. “aku hanya belum menemukan orang yang tepat.” Jawab Jessica singkat. Tiffany membungkam mulutnya rapat – rapat. Sepertinya, tadi bukan pertanyaan yang bagus untuk saat ini.

>>>>>

Namja berambut pirang itu menggendong tasnya di punggung. Kaos putih berlengan pendek serta celana jeans melekat di tubuhnya. Tidak lupa dengan topi berwarna merah kesayangannya itu. Dia berjalan dengan santai ke arah sebuah ruangan.

Terlihat jelas ruangan yang sederhana tetapi cukup nyaman untuk ditempatinya selama di Seoul. Ruangan itu mungkin hanya terdiri dari satu kamar tidur , kamar mandi , dapur kecil dan sebuah TV yang melekat pada dinding ruangan itu. Pemandangan luarnya pun sungguh menakjubkan. Apabila sudah menjelang malam, mungkin keindahan kota Seoul dari atas sana bisa terlihat sangat indah. Namja itu tersenyum kecil saat menyadari ia sudah 13 tahun lamanya ia meninggalkan kota Seoul dan menetap di China.

Dia sungguh merindukan kota Seoul yang ramai , indah dan tidak pernah tidur itu. Apalagi dia mempunyai janji menemui seseorang disini. Janji yang harus dia tepati.

Terdengar suara panggilan yang cukup keras menggema di ruangannya. Ia menengok ke sekelilingnya dan melihat seorang namja yang terengah – engah menatapnya. Dia menatap namja itu dengan tatapan bingung.

“Ya Luhan! Tidak bisakah kau memberitahuku jika sudah berada di Seoul? Aku sungguh mengkhawatirkanmu, kau tau? Mengapa kau tidak tinggal di rumah bersamaku dan eomma?” protes namja itu kepada namja berambut blonde yang dipanggil Luhan itu. Luhan hanya terkekeh melihat kelakuan saudara kembarnya itu. Luhan dan namja itu memang sudah terpisah selama 13 tahun, karena Appanya mengajak Luhan menetap di Beijing, China. Sedangkan, Sehun–saudara kembarnya–lebih memilih menemani Eommanya di Seoul.

Jadi, wajar saja Sehun sungguh mengkhawatirkan Luhan. “keke.. kau sungguh tidak berubah, hun. Aku ingin mencoba hidup mandiri di Seoul.” Jawab Luhan sambil mengelus kepala Sehun. Sehun menggembungkan pipinya. Sebenarnya, Sehun hanya berani berbuat manja hanya kepada Luhan saja. Untuk orang lain? Oh jangan ditanya, dia salah satu namja terdingin di Sekolahnya itu.

Luhan menata baju – bajunya yang akan dipakainya di Seoul dengan telaten. Sesekali Sehun pun membantunya. “ah Luhan! Apa kau sudah mengetahui sekolahmu di Seoul? Kau satu sekolah denganku.” Kata Sehun dengan antusias.

Luhan mengeluarkan smirknya lalu berkata, “Sekolahku? Tentu saja aku sudah mengetahuinya. Itu salah satu alasanku datang ke Seoul, bukan?” Sehun mengangkat salah satu alisnya.

>>>>

Sooyeon menelungkupkan mukanya di bangkunya sambil sesekali mendesah pelan. Dia ternyata benar – benar dijadikan target utama bagi parayeoja disini. Dan itu cukup membuat hidupnya kurang tenang. Untuk pergi ke kamar mandi pun, ia harus siap mendengar cemoohan – cemoohan yang diberikan oleh mereka. Oh! Ini pasti akan menjadi hari yang sangat panjang.

Di sisi lain, Byun Baekhyun. Namja itu hanya duduk tenang di bangkunya sambil mengobrol asyik dengan Chanyeol dan Suho. Terkadang, mereka tertawa terbahak – bahak mengingat Sooyeon yang menjadi target semua yeoja di Sekolahnya.

“Kau gila, Baekhyun!” Seru Chanyeol sambil terkekeh. Suho ikut mengangguk – anggukkan kepalanya, tanda menyutujui perkataan Chanyeol. Baekhyun mengatur napasnya yang mulai tidak teratur karena terus tertawa. Dia pun membetulkan posisi duduknya.

jinjja? Kurasa aku melakukan hal biasa yang kulakukan. Menjahili yeoja menggemaskan itu.” balas Baekhyun. Tidak berapa lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Baekhyun , Chanyeol dan Suho menghentikan tawaan mereka lalu menatap Sehun yang menatap mereka dengan tatapan dinginnya. Terlihat ada namja yang mengikutinya di belakangnya. “eoh, siapa dia?” tanya Suho.

Sehun menatap arah pandang Suho yang menatap Luhan. Luhan mendekat ke arah mereka lalu membungkuk. “Xi Luhan imnida.” kata Luhan singkat. Baekhyun menatapnya tajam. Entah mengapa ia merasa Luhan bukanlah orang yang baik. Walaupun penampilannya menunjukkan bahwa ia seseorang yang berkepribadian baik.

Baekhyun mengangguk sedikit lalu mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Terlihat, Sooyeon yang berjalan ke arahnya dengan muka yang memerah marah. Baekhyun menelan air liurnya. Berteman dengan Sooyeon dalam waktu yang cukup lama membuat dia mengetahui bahwa Sooyeon seorang yang menakutkan. Sooyeon menggebrak meja Baekhyun dan membuat Sehun , Luhan , Baekhyun , Suho dan Chanyeol menatapnya ngeri.

“kau akan mati Byun Baekhyun!” umpat Sooyeon. Baekhyun bergidik ngeri lalu menatap Sooyeon ketakutan. Padahal, tujuan awalnya hanya untuk mengerjai Sooyeon.

Ketika tangan Sooyeon akan mendarat di kepala Baekhyun, tangannya di tahan oleh Luhan. Sooyeon menatapnya tajam. Sedangkan, Luhan hanya menatapnya polos. Sooyeon menatap tajam Luhan yang masih menggengam tangannya.

“jangan pernah bermain kasar Nona Jung.” Kata Luhan dengan senyuman terukir di mukanya. Jessica terbengong – bengong ke arah Luhan karena dia mengetahui marganya. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Atau apakah Luhan seorang peramal? Hanya itu pertanyaan – pertanyaan yang berputar – putar di otaknya.

“ka,kau mengenalku?”

-TBC-

Fyuh~ akhirnya part 1 beres ya ._. aku bikin di sela sela waktu senggang sih, jadi maaf kalau kependekan di part 1nya. Soalnya aku masih bingung tentang pairingnya. Kedua cast namjanya bias semua sih ._. jadi susah nentuin. Huhu~

Mungkin aku pun berencana buat FF drabble atau Oneshoot di sela – sela pembuatan FF ini yang entah kapan endingnya. Menurut kalian aku harus bikin pairingnya siapa? Comment Juseyo! \^-^/

Iklan

Satu pemikiran pada “[Series] Memories (Chapter 1)

Comment Please ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s